Tampilkan postingan dengan label Coretan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Januari 2015

Happiness Index vs Financial Index

Standard


Bismillah...

Suatu siang, selepas Dzuhur, saya bersilaturahim ke rumah salah satu teman, dan kebetulan Ayahnya ikut ngobrol dengan kami. Beliau berbagi sedikit tentang pandangan hidupnya kepada kami. Beliau menekankan tentang pentingnya prinsip ‘Happiness Index’ dan bukan ‘Financial Index’. Mendengar kalimat pembukanya saja, saya udah sangat tertarik. Beliau kemudian meneruskan penjelasannya, Happines Index adalah menjadikan Kebahagiaan sebagai tolak ukur pencapaian. Sedangkan Financial Index, menjadikan Finansial sebagai ukuran pencapaian. Seseorang yang berprinsip Financial Index, akan menjadikan Finansial atau Materi sebagai tujuan utama. Hingga tak jarang, untuk memperoleh pencapaian finansial itu, dilakukan dengan cara yang kurang atau bahkan tidak halal.

Berbeda dengan Finansial Index, Happiness Index tentu menjadikan Kebahagiaan sebagai tujuan utama. Kebahagiaan yang dimaksud adalah kebahagiaan yang hakiki, kebahagiaan yang hanya bisa diperoleh dengan cara yang baik. Kebahagiaan tersebut dapat diperoleh dengan banyak cara, yang tentunya cara yang halal, cara yang tidak bertentangan dengan norma Agama, cara yang tidak merugikan orang lain. Dari sekian cara tersebut, salah satunya adalah melalui materi. Eits, pahami betul kalimat terakhir tadi. Karena dari situlah akan sangat jelas perbedaannya. Oke, saya sederhanakan seperti berikut :

Financial Index, menjadikan Finansial atau Materi sebagai tujuan utama;
Happiness Index, menjadikan Kebahagiaan sebagai tujuan utama, dan materi hanyalah salah satu dari sekian banyak fasilitas untuk meraih kebahagiaan. Jadi, di sini materi hanya sebuah fasilitas, bukan tujuan utama !


"Jadi dapat saya simpulkan, dengan menjadikan Happiness Index sebagai prinsip hidup, in sya Allah, kita lebih tenang dalam menjalani hidup, lebih memperhatikan proses pencapaian kebahagiaan hidup, karena kebahagiaan hakiki, hanya dapat diraih dengan cara-cara yang baik, yang tidak bertentangan dengan aturan-Nya."

Rabu, 28 Januari 2015

8 Oktober 2013

Standard


Bismillah...
Saya masih ingat betul, kurang lebih setahunan yang lalu, di saat kehidupan saya masih jauh dari kata pantas untuk disebut sebagai seorang muslim. Beragama Islam, tapi berpengetahuan pas-pasan soal agamanya. Yang kutahu hanya apa yang kebanyakan orang lain tahu. Di saat itulah, Alhamdulillah, Allah mengijinkan saya mengenal (meski sebatas informasi sosmed) seorang Muslimah yang begitu luar biasa bagi saya, in sya Allah hingga saat ini. Seorang Muslimah yang berhijab syar’i, di saat masih langkanya saya menemui orang berpakaian syar’i di lingkungan saya. Seorang Muslimah, yang sering ‘ngetwit’ tentang ilmu-ilmu agama, ataupun pesan moral yang baik.

Semakin hari, semakin diam-diam saya ‘stalking’ lini masa akunnya, hehe :D
Ya, hanya diam-diam, (pas nulis ini, asli g bisa nahan senyum ^^), karena saya tahu kami hanya sekedar teman di sosmed. Dari lini masa, dan beberapa kali komunikasi, saya jadi semakin paham dengan prinsip hidupnya. Prinsip hidup sebagai seorang Muslimah yang benar-benar taat pada-Nya, in sya Allah. Semoga penilaian saya tidak salah dan tidak berlebihan. Semoga Allah selalu melindunginya untuk selalu taat pada-Nya.

Mengenal sosok Muslimah yang seperti itu, sudah pasti akan membuat saya malu jika harus melihat diri saya sendiri yang sangat kurang akan ilmu agama, sangat kurang akan ketaatan pada-Nya. Berawal dari itu, saya mulai sadar bahwa betapa jauhnya saya selama ini dari-Nya. Betapa tak berkualitasnya keagamaan saya selama ini. Mengaku Islam, tapi tak paham betul ajaran Islam. Akhirnya saya putuskan ‘ngebut’ belajar Agama, cari referensi sana-sini, belajar ngaji, cari komunitas yang semisi, dan masih banyak lagi agenda dadakan untuk menambah wawasan keagamaan saya. Berharap, agar saya dapat menjadi Muslim yang betul-betul Muslim. Hamba yang benar-benar taat pada-Nya. Dan, semua usaha itu kini tak sia-sia, in sya Allah, meskipun sedikit, setidaknya ada perubahan baik dalam hidup saya. Alhamdulillah.

Perubahan baik ini sangat penting, dan sangat saya syukuri. Malu rasanya ketika saya flashback ke masa lalu saya :’) Melihat begitu abu-abunya masa lalu itu, semakin sadar bahwa tidak mudah proses untuk berhijrah itu, perlu action, action yang didukung oleh motivasi yang baik. Dan jika diingat lagi, mungkin motivasi terbaik itu, adalah ketika saya sangat ingin lebih mendekat pada-Nya. Dan keinginan itu timbul karena ada yang mengingatkan tentang pentingnya itu semua. Ya, tanpa sengaja saya sering merasa ‘teringatkan’ oleh isi-isi dari lini masa seorang Muslimah tadi. Mungkin bahasa sederhananya seperti ini : “Allah mengirimkan hidayah kepada saya, melalui Muslimah ini” :D

Mengutip salah satu kalimat mutiara, bahwa pasangan hidup yang baik, adalah pasangan yang selalu saling mengingatkan dalam kebaikkan, maka saya berharap, kelak Allah mengijinkan saya untuk melamar dan menikahinya, menjadikan kami  pasangan yang senantiasa taat kepada-Nya, pasangan yang bahagia di dunia sampai akhirat... Aamiin... :)

Hehe, malah larut dalam do’a gini nulisnya XD


Maaf, tidak menyebutkan nama sekalipun, karena tidak ingin mendahului kehendak-Nya ^^
Oiya, judulnya adalah tanggal dimana mention pertama kami di Twitter :v
Terakhir, semoga Allah selalu melindunginya agar selalu dapat menjaga ketaatan kepada-Nya... Aamiin...

Jangan Lupa Bahagia

Standard

Bismillah...
Seringkali, setiap saya mengunjungi suatu daerah pedalaman, daerah pegunungan, atau bahkan pesisir pantai, seketika perasaan saya menjadi sangat tenang dan damai rasanya. Mungkin karena saya berada di lingkungan asing, lingkungan yang lebih mendekatkan saya dengan alam. Sebuah daerah yang baru saya kunjungi, dan memperlihatkan kepada saya bentangan keindahan lukisan-Nya. Sejuk, hijau, dan sederhana. Eh, tunggu dulu, sederhana, mungkinkah itu jawabannya ? Jawaban atas semua kedamaian itu...

Saya jadi teringat ketika selesai bersilahturahim ke rumah salah satu teman di daerah Sumber Podang, daerah lereng pegunungan Wilis, Kediri. Sebelum pulang, saya sempat berjama’ah sholat maghrib di musholla yang tak jauh dari rumahnya. Dengan sedikit lampu penerangan, jalan tanah yang naik-turun, saya merasakan betul suasana hening khas desa pegunungan. Berbondong-bondong, Laki-laki dan Perempuan menuju musholla, sambil mereka ngobrol ringan. Terasa suasana hangat persaudaraan terjadi di situ. Sesampainya saya di musholla, terlihat bangunan musholla sederhana, sekali lagi dengan penerangan yang tak begitu terang, namun sudah dipadati jama’ah, mulai dari anak kecil, orang dewasa, hingga yang sudah ‘sepuh’. Tanpa pengeras suara, sholat maghrib berlangsung hening dan sangat khusyuk. Ah, damai sekali rasanya...

Selesai sholat maghrib, saya bergegas pulang. Di perjalanan, di jalan yang aspalnya naik turun, dan minim penerangan, saya sengaja memperlambat laju motor. Saya ingin menikmati suasana, kegiatan masyarakat pegunungan yang jauh dari keramaian kota. Saya terpesona melihat beberapa penduduk berkumpul di pinggiran jalan, bercengkerama penuh kehangatan. Muda-mudi pun demikian, berkumpul terlihat bercanda, tampak asyik mengobrolkan sesuatu yang ringan, dan tanpa ada persaingan gengsi layaknya pemuda kota dengan segenap individualismenya. Saya terpesona melihat beberapa gadis muslimah, yang mengenakan hijab syar’i, mengayuh sepeda bersama teman-temannya menuju sebuah tempat mengaji, penuh kesederhanaan, sederhana dalam sebuah ketaatan pada-Nya. Sama sekali tidak terlihat dari mereka perilaku gengsi. Jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, mereka membuat kedamaian mereka sendiri. Ah, sederhana sekali, dan sangat damai rasanya. Dalam penuh kesederhanaan, saya melihat kebahagiaan di kehidupan mereka.

Kerasnya kehidupan, memang seringkali membuat saya sibuk memikirkan dunia. Hingga sering saya lupa tujuan dari semua ini. Mungkin Allah mengingatkan saya melalui rasa damai yang saya rasakan ketika berada di daerah-daerah yang penuh kekhusyukan itu. Bahwa dalam sebuah kesederhanaan, dan kekhusyukan dalam beribadah penuh ketaatan kepada-Nya, tanpa perlu larut berlebihan dalam kerasnya tipu daya dunia, ada sebuah kebahagiaan yang luar biasa, kebahagiaan yang sejati, kebahagiaan yang semakin mendekatkan kita pada-Nya.

Sesekali, kita memang perlu menghadapi kerasnya urusan dunia, tapi ingat, jangan lupa bahagia... :)